The UN Special Rapporteur on health country visit to Indonesia and Indonesian CSOs Submission

As a reflection of Indonesia’s commitment to work closely with the UN Human Rights mechanisms, Indonesia, through the Permanent Mission of the Republic Indonesia in Geneva, Switzerland, has invited the United Nations Special Rapporteur on the right of everyone to the enjoyment of the highest attainable standard of physical and mental health (UN SR on health) to visit Indonesia which has been scheduled to take place from 22 March to 3 April 2017.

It is definitely a great chance for Indonesia to have further constructive engagement with the UN SR on health, as well as to fulfil the State obligation to respect and to protect the right to health of its citizen. During the visit, the Special Rapporteur will consider issues related to the enjoyment of the right to health, including availability, accessibility, acceptability and quality of health services, goods and facilities, as well as the underlying determinants of health in the country, including poverty and social exclusion.

The UN SR will be interested in addressing specific themes during his visit, especially within the framework of the health-related Sustainable Development Goals and the 2030 Agenda for Sustainable Development. Issues of focus for the visit will include universal health care coverage; maternal and children’s health; sexual and reproductive health; mental health; HIV/AIDS; and drug/substance use dependency. He will look into the situation of specific groups and populations, particularly those in situations of vulnerability, such as children, indigenous peoples, refugees, asylum seekers, and migrants, and persons with disabilities.

During country missions, the UN SR conducts site visits to inter alia primary healthcare centres, hospitals, mental healthcare units in general healthcare facilities and psychiatric institutions, drug rehabilitation centres, prisons’ healthcare facilities, and primary and secondary schools. In addition, the UN SR spends time outside the capital city to better understand the enjoyment of the right to health throughout the country. While the Special Rapporteur invites and appreciates suggestions of places and locations to visit during his stay in the country, he has agreed to visit Padang and has expressed his interest to the authorities in visiting locations in Eastern Indonesia, in particular, Flores (Labuan Bajo) and West Papua.

In this regard, Human Rights Working Group (HRWG) Indonesia with its member of the Coalition and its network are very welcomed the visit of the UN SR in Indonesia. Therefore, we are aware, it is important to have further engagement and dialogue during his visit in Indonesia.

Profile of the Special Rapporteur on the right to health

The Special Rapporteur on the right of everyone to the enjoyment of the highest attainable standard of physical and mental health, Mr Dainius Pūras (Lithuania), is a medical doctor with notable expertise on mental health, child health, and public health policies. Mr Pūras is a Professor and the Head of the Centre for Child psychiatry social paediatrics at Vilnius University, and teaches at the Faculty of Medicine, Institute of International relations and political science and Faculty of Philosophy of Vilnius University, Lithuania. Mr. Pūras assumed his functions as the Special Rapporteur on the right to health on 1 August 2014, for a period of three years.

Pursuant to its resolution 6/29, the Human Rights Council reiterated that the mandate of the Special Rapporteur includes the following:

  1. Gather, request, receive and exchange information from all relevant sources, including Government, intergovernmental and non-governmental organisations, on the realisation of the right of everyone to the enjoyment of the highest attainable standard of physical and mental health, as well as policies designed to achieve the health-related Millennium Development Goals;
  2. Develop a regular dialogue and discuss possible areas of cooperation with all relevant actors, including Governments, relevant United Nations bodies, specialised agencies and programmes, in particular, the World Health Organization and the Joint United Nations Programme on HIV/AIDS, as well as non-governmental organisations and international financial institutions;
  3. Report on the status, throughout the world, of the realisation of the right to health and on developments relating to this right, including on laws, policies and good practices most beneficial to its enjoyment and obstacles encountered domestically and internationally to its implementation;
  4. Make recommendations on appropriate measures that promote and protect the realisation of the right to health, with a view to supporting States’ efforts to enhance public health; and
  5. Submit an annual report to the Human Rights Council and an interim report to the General Assembly on its activities, findings, conclusions and recommendations.

By its resolution 33/9 of October 2016, the Council extended the mandate of the Special Rapporteur on the right to health for a further period of three years.

Indonesian CSOs Engagement 

The engagement of civil society is important thing that should be exist in the protection and promotion of human rights. It guaranteed by the international human rights standards as well as by legitimate laws in Indonesia, such as the Constitution, Human Rights Law (39/1999), and also the human rights instrument that ratified by Indonesian Government.

To support the visit of Special Rapporteur on Health, HRWG and some organizations conducted several meetings and discussion on the drafting the Submission of CSOs to the Special Rapporteur. It important to highlight some issues of health rights in Indonesia and giving direction for the SR to prioritizing crucial situations of health, especially related to the mandates of SR.

The report of Indonesian CSOs can be downloaded here: Final report_Laporan Kunjungan UN SR on Health visit to Indonesia

 

 

HRWG Kecam Kekerasan terhadap Wartawan dalam Aksi 112

KELOMPOK pegiat Hak Asasi Manusia HRWG mengecam tindakan kekerasan kepada jurnalis atau wartawan yang sedang bekerja meliput aksi damai 112 (11 Februari).

Kekerasan dan intimidasi apa pun terhadap media, terutama jurnalis yang sedang bekerja mengumpulkan informasi merupakan ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan pers yang dilindungi undang-undang. Bahkan, di dalam Pasal 18 Ayat (1) UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dimungkinkan adanya sanksi atas tindakan penghalangan atau penghambatan aktifitas tersebut.

“Jurnalis ialah komponen penting demokrasi dan perlindungan HAM, sehingga keberadaannya harus dihormati oleh semua pihak. Harus diakui bahwa kekerasan terhadap jurnalis seringkali terjadi akibat ketidaksukaan terhadap pemberitaan media dengan alasan yang beragam, tetapi menghalangi-halangi aktivitas jurnalisme jelas-jelas mengancam pilar demokrasi. Penghalangan terhadap jurnalis juga menghalangi publik untuk menerima informasi yang utuh terhadap situasi atau suatu peristiwa,” kata Direktur Eksekutif HRWG Muhammad Hafiz dalam keterangan tertulis, Sabtu (11/2).

Ia menambahkan, semua pihak harus menghargai dan menghormati pemberitaan media sebagai bagian dari iklim demokratis. Bila tidak setuju dengan konten atau materi pemberitaan, setiap orang diberikan hak untuk melangkah prosedur yang telah disediakan, seperti menggunakan hak jawab, meminta koreksi, hingga melalui Dewan Pers atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

“Prosedur ini yang seharusnya digunakan oleh setiap pihak untuk mengeluh atas apa yang diberita oleh media massa dan tidak memilih cara penyelesaian sendiri, apalagi dengan kekerasan,” ujarnya.

Di sisi yang lain, lembaga-lembaga pengawas media juga seharusnya dapat bekerja independen dan tetap menjaga independensi pers di Indonesia dan memastikan setiap media untuk berpegang pada prinsip jurnalisme profesional.

“Industri media, dengan pelbagai macam kepentingannya, harus pula tetap mendorong independensi dan menggunakan prinsip dan etika jurnalistik,” imbuh Hafiz.

Lihat berita aslinya disini.

[Press Statement] HRWG Mengecam Kekerasan terhadap Jurnalis Terjadi Lagi

 

Press Statement

HRWG Mengecam Kekerasan terhadap Jurnalis Terjadi Lagi

Jakarta, 11 Februari 2017 | HRWG mengecam terjadinya kekerasan kepada jurnalis/wartawan yang sedang bekerja meliput aksi damai 112. Kekerasan dan intimidasi apapun terhadap media, terutama jurnalis yang sedang bekerja mengumpulkan informasi, merupakan ancaman terhadap kebebasan berekspresi dan pers yang dilindungi UU. Bahkan, di dalam Pasal 18 ayat (1) UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers dimungkinkan adanya sanksi atas tindakan penghalangan atau penghambatan aktifitas tersebut. 

Jurnalis adalah komponen penting demokrasi dan perlindungan HAM, sehingga keberadaannya harus dihormati oleh semua pihak. Harus diakui bahwa kekerasan terhadap jurnalis seringkali terjadi akibat ketidaksukaan terhadap pemberitaan media dengan alasan yang beragam, namun menghalangi-halangi aktivitas jurnalisme jelas-jelas mengancam pilar demokrasi. Penghalangan terhadap jurnalis juga menghalangi publik untuk menerima informasi yang utuh terhadap situasi atau suatu peristiwa. 

Semua pihak harus menghargai dan menghormati pemberitaan media sebagai bagian dari iklim demokratis, karena bila tidak setuju dengan konten atau materi pemberitaan, setiap orang diberikan hak untuk melangkah prosedur yang telah disediakan, seperti menggunakan hak jawab, meminta koreksi, hingga melalui Dewan Pers atau Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Prosedur ini yang seharusnya digunakan oleh setiap pihak untuk mengeluh atas apa yang diberita oleh media massa dan tidak memilih cara penyelesaian sendiri, apalagi dengan kekerasan.

Di sisi yang lain, lembaga-lembaga pengawas media juga seharusnya dapat bekerja independen dan tetap menjaga independensi pers di Indonesia dan memastikan setiap media untuk berpegang pada prinsip jurnalisme profesional. Industri media, dengan pelbagai macam kepentingannya, harus pula tetap mendorong independensi dan menggunakan prinsip dan etika jurnalistik.

Untuk itu pula, dalam situasi demikian Negara – melalui perangkat penegakan hukum – harus memastikan setiap awak media di lapangan dapat bekerja secara aman, tanpa ada kekerasan dari pihak manapun, sebagai bagian dari hak yang dijamin melalui Konstitusi dan  undang-undang.  

Jakarta, 11 Februari 2017

Muhammad Hafiz, Direktur Eksekutif HRWG

(081282958035)

Jaksa Agung: Penyelesaian Kasus 1998 Secara Nonyudisial

TEMPO.CO, Jakarta – Jaksa Agung Muhammad Prasetyo mengatakan pemerintah memutuskan untuk menyelesaikan kasus tragedi Trisakti, Semanggi I, dan Semanggi II (TSS) 1998 secara nonyudisial. Alasannya, pencarian fakta, bukti, dan saksi sulit dilakukan.

“Sementara kita berkeinginan pelanggaran HAM (hak asasi manusia) berat ini segera terselesaikan,” katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu, 1 Februari 2017.

Menurut dia, siapa pun yang menangani kasus ini akan kesulitan membawanya ke arah pendekatan yudisial. Sebab peristiwa ini sudah lama terjadi.

Prasetyo berujar pemerintah sudah berulang kali melakukan rapat membahas penyelesaian kasus ini. Keputusan penyelesaian secara nonyudisial diambil karena melihat dinamika saat ini. “Makanya Pak Menkopolhukam mengambil inisiatif,” ujarnya.

Menurut Prasetyo, penyelidikan terkait dengan pelanggaran HAM tetap dilakukan oleh Komisi Nasional HAM. “Kalaupun dilaksanakan ke penyidikan, jangan dipaksakan ke judicial bila ternyata hasilnya tidak maksimal,” tuturnya.

Sikap pemerintah ini dikecam oleh Human Rights Working Group (HRWG). Keputusan itu dianggap sebagai jalan pintas yang terburu-buru dan melupakan aspek keadilan yang seharusnya diterima oleh korban.

“Atas dasar apa keputusan ini dibuat? Jika masalahnya jaksa tidak mau merespons temuan Komnas HAM, maka kami mendesak presiden untuk memaksa Jaksa Agung agar menindaklanjutinya,” kata Direktur Eksekutif HRWG Muhammad Hafiz.

Untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk tragedi TSS, kata Hafiz, yang perlu ditegaskan adalah prinsip pengungkapan kebenaran oleh negara. Menurut dia, hal ini bukan sekadar pembuktian suatu peristiwa dan menghentikan beban sejarah bangsa. “Ini juga menjadi pelajaran bagi publik agar ke depan peristiwa serupa tidak terulang,” ucapnya.

Hafiz mengatakan proses tidak boleh langsung melompat ke nonyudisial. Namun, harus diungkap dulu kebenarannya. “Siapa melakukan apa, atas perintah siapa dan atas sebab apa? Siapa korbannya? Bagaimana gambaran utuh peristiwanya? Semuanya harus diungkap ke publik,” ujarnya.

 

Lihat berita aslinya disini.

HRWG Kecam Putusan Pemerintah Selesaikan Kasus TSS Melalui Jalur Non Yudisial

Covesia.com – Human Rights Working Group (HRWG) mengecam keputusan Pemerintah, dalam hal ini Menkopolhukam untuk menyelesaikan pelanggaran HAM berat masa lalu tragedi Trisakti, Semanggi I dan Semnaggi II (TSS) melalui jalur non-yudisial atau rekonsiliasi.

HRWG menganggap, keputusan ini merupakan jalan pintas yang terburu-buru dan melupakan aspek keadilan yang seharusnya diterima oleh korban.

“Atas dasar apa keputusan ini dibuat? Jika masalahnya Jaksa tidak mau merespon temuan Komnas HAM, maka kami mendesak Presiden untuk memaksa Jaksa Agung agar menindaklanjutinya. Selama ini, Jaksa Agung terbukti menghambat pelaksanaan dan melawan Nawacita, yang salah satunya adalah akan menyelsaikan kasus pelanggran HAM masa lalu,” kata Muhammad Hafiz, Direktur Eksekutif HRWG melalui pers rilis yang diterima covesia.com, Rabu (1/2/2017).

Hafiz juga mengingatkan bahwa persetujuan tak berkesudahan antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung ini telah menjadi perhatian Komite HAM PBB.

Bahkan, menurut Hafiz, Komite HAM PBB menjadikan penyelesaian perseteruan dua lembaga ini sebagai rekomendasi kunci atau prioritas pada tahun 2013, selain 3 rekomendasi lainnya.

“Hingga saat ini, kita tidak tahu bagaimana hasilnya, Kejaksaan dan Komnas saling lempar, saling tuduh tidak lengkapnya dokumen, sehingga kasus penyelesaiannya mandeg”, tegasnya.

Untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk tragedi TSS, lanjut Hafiz, yang perlu ditegaskan adalah prinsip pengungkapan kebenaran oleh negara.

Tidak hanya sebagai pembuktian terhadap suatu peristiwa dan menghentikan beban sejarah bangsa, hal ini juga menjadi pelajaran bagi publik agar ke depan peristiwa serupa tidak terulang. Lebih dari itu, proses ini mendorong adanya pemenuhan hak-hak korban itu sendiri.

Di samping itu, HRWG juga mendorong agar temuan Komnas HAM dan termasuk pula Komnas Perempuan terkait pelanggaran HAM TSS bisa dijadikan rujukan untuk proses penyidikan.

“Apalagi, kasus ini adalah kasus yang tergolong baru, saksi, korban dan keluarganya, serta mungkin pelaku masih hidup. Bila fakta sudah diungkap, setelah itu terserah korban dan keluarganya untuk menindaklanjuti atau tidak ke proses pengadilan hingga penghukuman. Bukan hak pemerintah dan Komnas HAM,” jelasnya.

Meski diingat, hasil penyelidikan Komisi Penyelidik Pelanggaran (KPP) HAM Tragedi Trisakti, Semanggi I dan II pada bulan Maret 2002, menyatakan, ketiga tragedi tersebut bertautan satu sama lain.

KPP HAM TSS juga menyatakan, terdapat bukti-bukti awal yang cukup bahwa di dalam ketiga tragedi telah terjadi pelanggaran berat HAM yang antara lain berupa pembunuhan, peganiayaan, penghilangan paksa, perampasan kemerdekaan dan kebebasan fisik yang dilakukan secara terencana dan sistematis serta meluas.

Lihat berita aslinya disini.