Regional Civil Society Statement on the Adoption of an ASEAN Instrument on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers

I. We, representatives of the civil society, trade unions, and people’s organizations of Brunei Darussalam, Cambodia, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, the Philippines, Singapore, Thailand and Vietnam, have gathered here today in Jakarta on the eighteenth of July two thousand and seventeen for the purpose of strengthening our common ground with a view towards the adoption of an ASEAN instrument on the protection and promotion of the rights of migrant workers;

II. Taking the momentum of fifty years anniversary of ASEAN, ten years anniversary of ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers (Cebu Declaration) and the upcoming 31st ASEAN Summit in November 2017 in the Philippines;

III. Applauding the intention of ASEAN Member States through Cebu Declaration, has made a political commitment to protect migrant workers’ rights and to promote decent, humane, productive, dignified and remunerative employment;

IV. Remembering Article 4 of the ASEAN Human Rights Declaration on the rights of migrant workers and Article 22 of the Cebu Declaration that calls for the development of an ASEAN instrument to fully implement the principles of the Cebu Declaration;

V. Encouraged by the Joint Communique of ASEAN leaders as the result of the 30th Summit in Manila, the Philippines on 29 April 2017 that tasked Labour Ministers of ASEAN member states to finalize an instrument on migrant workers to be adopted at the 31st ASEAN Summit in November 2017;

VI. Believing that an ASEAN instrument on migrant workers is key to strengthen ASEAN political, economic, and social pillars of the ASEAN Community by promoting the full potential and dignity of migrant workers and their family members in a climate of freedom, equality, and stability;

VII. Recognizing the United Nations Convention on the Elimination on Discrimination against Women (CEDAW), the United Nations Convention on the Rights of the Child (CRC), the United Nations Convention on the Rights of Persons with Disabilities;

VIII. Emphasizing the need for the ASEAN instrument to be guided by international norms and standards embodied in the Universal Declaration of Human Rights and other international instruments including international human rights treaties, international humanitarian law treaties, and the International Labour Organization (ILO) core labour standards;

IX. Trusting that the inclusion of and engagement with civil society, trade unions, and people’s organizations is integral to the adherence to the purpose of ASEAN as stipulated in Article 1.13 of the ASEAN Charter ‘to promote a people-oriented ASEAN, in which all sectors of the society are encouraged to participate in, and benefit from, the process of ASEAN integration and community building;

X. Reiterating the Philippines Chairman’s Statement of the 30th ASEAN Summit on 29 April 2017 that defines ‘a people-oriented and people-centered ASEAN’ as one of the six 2 thematic priorities echoing Malaysia Chairman’s Statement of the 27th ASEAN Summit on 21 November 2015;

XI. We hereby submit and call upon ASEAN Member States to consider and adopt the following recommendations:

1. Adopt an agreement that protects migrant workers and their family members entitled ‘ASEAN Instrument on the Protection and Promotion of the Rights of All Migrant Workers’ to ensure consistency with paragraph 22 of the ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers;

2. Endow a legally binding nature over the aforementioned instrument in view of fully realizing the Cebu Declaration and implementing the General Principles articulated in the Cebu Declaration;

3. Uphold full labour protection and human rights for all migrant workers regardless of their legal status;

4. Uphold full labour protection and human rights for migrant youths between the age of 15 to 18 years old;

5. Include family members of migrant workers within the ambit of the instrument;

6. Include specific provisions to address the human rights of women migrant workers and domestic workers that are in line with CEDAW and the ILO Convention Number 189;

7. Ensure that the plan of action is linked with the Sustainable Development Goals (SDGs), time-bound, measurable with clear goals, targets, and indicators, including mechanism for tracking monitoring and evaluation with a process that is transparent and inclusive of the civil society, trade unions, and people’s organizations;

8. Include the following items in the plan of action:

a. Programs for the realization of decent work for migrant workers especially migrant domestic workers, low-skilled migrant workers, and those in informal sectors as guaranteed under the four ILO pillars; (1) full and productive employment, (2) rights at work, (3) social protection, and (4) the promotion of social dialogue.

b. The implementation of the rights guaranteed under the eight core ILO conventions;

c. The implementation of the rights of migrant workers and their rights to all matters relating to marriage and family relations under Article 16(1) of CEDAW and the CRC on the rights of family members;

d. Meaningful and substantive participation of civil society, trade unions, and people’s organisations in policy dialogue;

e. Sharing of information through various means of communications, providing consultations with the civil society, multiple stakeholders, and the public;

f. Measures for the protection of women and girl children, migrant workers from discrimination and gender-based violence.

9. Include a mandate of formulating a peer-review mechanism among the ASEAN member states;

Done in Jakarta, Indonesia on this eighteenth day of July of two thousand and seventeen.

Endorsed by the following civil society:

Human Rights Working Group (HRWG), Indonesia | Solidaritas Perempuan (Women’s Solidarity for Human Rights), Indonesia | Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI – Indonesian Migrant Workers Union), Indonesia | Jaringan Buruh Migran (Migrant Workers Network), Indonesia | Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Indonesia | LBH Jakarta (Jakarta Legal Aid), Indonesia | Migrant Care, Indonesia | Institute for Women’s Empowerment (IWE), Indonesia | Brunei Council on Social Welfare, Brunei Darussalam | Center for Alliance of Labor and Human Rights (CENTRAL), Cambodia | Bar Council Migrants, Refugees and Immigration Affairs Committee, Malaysia | Migration Working Group, Malaysia | North South Initiative, Malaysia | Public Legal Aid Network (PLAN), Myanmar | Women’s Legal and Human Rights Bureau, Philippines | Center for Migrant Advocacy, Philippines | Think Centre, Singapore | UNI Apro, Singapore | Human Rights and Development Foundation (HRDF), Thailand | Migrant Working Group, Thailand | Foundation for Women, Thailand | Task Force on ASEAN Migrant Workers | ASEAN Services Trade Union Council (ASETUC)

Pemerintah Kaji Ulang 75 Rekomendasi Sidang UPR 2017

Pemerintah telah menjalani universal periodic review (UPR) Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss pada 3 Mei 2017. Ada 101 negara anggota PBB yang memberikan rekomendasi kepada pemerintah Indonesia. Dari 225 rekomendasi yang dilayangkan, 150 diterima pemerintah dan 75 sisanya masih dalam pertimbangan.

Direktur HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri, Dicky Komar, mengatakan sampai saat ini Pemerintah masih mengkaji ulang 75 rekomendasi itu. Ada dua sikap yang harus dipilih oleh negara yang mendapat rekomendasi yakni menerima atau dicatat (noted). Nah, yang 75 rekomendasi tersebut masih berstatus noted.

Rekomendasi yang belum disikapi Pemerintah berkaitan dengan isu praktik hukuman mati, ratifikasi konvensi seperti Statuta Roma, dan standing invitation atau menerima semua kunjungan pelapor khusus PBB. “Pemerintah menerima rekomendasi yang sesuai dengan Rencana Aksi Nasional HAM (RAN-HAM) dan kebijakan HAM nasional serta prioritas nasional,” kata Dicky dalam diskusi di Jakarta, Selasa (25/7).

Menurut Dicky tidak semua negara yang memberikan rekomendasi paham situasi di Indonesia. Akibatnya, rekomendasi yang disampaikan negara yang bersangkutan tidak tepat untuk Indonesia. Misalnya, Albania merekomendasikan Indonesia meratifikasi konvensi yang berlaku untuk negara anggota Uni Eropa. Padahal Indonesia jelas bukan bagian dari Uni Eropa.

Pemerintah perlu mengajak kementerian dan lembaga terkait untuk membahas 75 rekomendasi itu. Pemerintah Indonesia diberi batas waktu sampai September 2017 untuk memberi jawaban terhadap 75 rekomendasi tersebut. “Pemerintah harus memberikan argumentasi yang logis dalam menjawab rekomendasi,” urai Dicky.

Dari 150 rekomendasi UPR 2017 yang diterima pemerintah antara lain soal ratifikasi Konvensi ILO No. 189 tentang Kerja Layak PRT, melanjutkan kebijakan yang melindungi kaum rentan dan minoritas seperti anak dan perempuan, difabel serta lansia. Dicky menjelaskan selanjutnya rekomendasi UPR itu akan dituangkan dalam berbagai kebijakan pemerintah pusat dan daerah.

Komisioner Komnas HAM, Nur Khoiron, mengapresiasi pemerintah Indonesia menerima lebih dari 50 persen rekomendasi yang disampaikan berbagai negara dalam UPR 2017. Tapi tantangan bagi pemerintah yakni bagaimana membahas 75 rekomendasi yang masih tertunda itu bersama pihak lain seperti Komnas HAM dan organisasi masyarakat sipil. “Pemerintah harus terbuka, dan memberi penjelasan apakah 75 rekomendasi itu ditolak atau diterima,” tukasnya.

Jika mekanisme itu dijalankan Nur Khoiron yakin masyarakat akan mengerti kenapa pemerintah menerima atau menolak rekomendasi UPR. Komnas HAM berharap pemerintah melembagakan proses tersebut. Jangan sampai forum UPR itu hanya sekedar seremonial, tapi pemerintah harus menjalankannya dan membuktikan Indonesia mampu berprestasi di bidang HAM.

Baca berita aslinya disini.

Ditunggu, Instrumen Perlindungan Buruh Migran ASEAN

Perlintasan buruh migran antar negara di Asia Tenggara tergolong tinggi. Namun, mobilitas para pekerja lintas negara itu tidak diikuti perlindungan yang memadai. Akibatnya, banyak buruh migran yang haknya tidak terlindungi.

Sejak 2007 ASEAN telah menerbitkan Deklarasi Cebu yang memandatkan negara di asia tenggara untuk menerbitkan instrumen regional yang melindungi buruh migran. Sampai saat ini pembentukan instrumen itu masih berproses, paling lambat harus selesai pada pertemuan ASEAN November 2017 di Manila, Filipina.

Program Manajer Advokasi HAM ASEAN HRWG, Daniel Awigra, mengatakan proses pembentukan draft instrumen itu sangat tertutup. Pemerintah di setiap negara ASEAN tidak memberikan naskah draft tersebut kepada masyarakat sipil. Padahal dokumen itu nanti akan diterapkan untuk publik khususnya perlindungan bagi buruh migran dan keluarganya.

Walau tidak mendapat draft, pria yang disapa Awi itu mengatakan koalisi organisasi masyarakat sipil di ASEAN menekankan agar ketentuan yang diatur dalam instrumen tersebut melindungi buruh migran dan keluarganya, baik buruh migran yang berdokumen lengkap atau tidak.

Awi menjelaskan sedikitnya ada 4 hal yang menjadi perdebatan antar negara Asia Tenggara dalam membahas instrumen perlindungan buruh migran. Pertama, negara asal buruh migran berharap instrumen itu mengikat (legally binding), tapi negara penerima seperti Malaysia dan Singapura tidak menyetujuinya. Kedua, negara penerima hanya mau memberi perlindungan terhadap buruh migran berdokumen.

Ketiga, negara penerima hanya mau melindungi buruh migran, tidak beserta keluarganya. Keempat, sebagian negara hanya mau menggunakan pendekatan pembangunan, padahal yang perlu dijalankan perspektif HAM. “Kami sebagai perwakilan masyarakat sipil di Asia Tenggara mengusulkan agar instrumen itu bersifat mengikat bagi negara Asean dalam melindungi buruh migran dan keluarganya. Perlindungan itu harus diberikan kepada seluruh buruh migran baik yang berdokumen lengkap atau tidak,” kata Awi.

Masyarakat sipil Filipina yang diwakili Centre for Migrant Advocacy Philippines, Ellene S Anna, mengatakan tahun ini genap 50 tahun berdirinya Asean. Oleh karenanya saat ini merupakan momentum penting bagi Asean untuk memiliki instrumen yang melindungi buruh migran. “Pemerintah Filipina harus mendorong diselesaikannya instrumen tersebut sejak 10 tahun lalu berhasil mengawali dengan terbitnya Deklarasi Cebu 2007 silam,” tegasnya.

Koordinator Migration Working Group Malaysia, Sumitha Saanthinni Kishna, menekankan pentingnya implementasi setelah instrumen itu diterbitkan. Perlu dibentuk rencana aksi, dengan tujuan dan batas waktu yang jelas.” Instrumen itu harus mengikat negara Asean. Selain kepada buruh migran asal Asia Tenggara perlindungan juga perlu diberikan kepada buruh migran yang berasal dari negara lain seperti Nepal, Srilangka dan India,” tukasnya.

Baca berita aslinya disini.