Golden Opportunity for ASEAN to Begin Recognizing Refugee Rights

Press Release

Golden Opportunity for ASEAN to Begin Recognizing Refugee Rights

[Jakarta, 24 January 2019] Human Rights Working Group (HRWG) appreciates the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN’s) effort in facilitating repatriation for Rohingya refugees facing persecution in Myanmar.  Earlier this week, ASEAN expressed the intent to address the issue of forced migration of Rohingya refugees within the ASEAN region. This comes as a response to the overwhelming need to facilitate a coordinated response to what has been described as the fastest-growing refugee crisis. The Rohingya, a stateless minority group residing in Myanmar’s Rakhine State, have suffered discrimination at the hands of the Myanmar government, and violent persecution by the military and nationalist vigilantes.

ASEAN’s repatriation efforts have been spearheaded by the ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on Disaster Management (AHA Centre), which is coordinating the equitable distribution of aid and relief in affected areas of Myanmar. Along with overall support from the ASEAN community, these efforts have paved the way for the development of a clear pathway towards the realization of peace and human rights objectives.

In order to prevent further escalation of the crisis in Rakhine State, ASEAN must contribute to guarantee the safe repatriation of Rohingya refugees, working alongside ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights and the ASEAN Institute for Peace and Reconciliation to resolve the key issues causing the conflict, and to promote reconciliation with upholding the principles of fair trial and human rights-based approaches.

In order to uphold accountability, it is crucial that Myanmar opens press freedom. Journalists should be free to seek and share information. Accordingly, Myanmar must release the journalists Wa Lone and Kyaw Soe Oo, who were imprisoned in 2017 for investigating human rights abuses in Rakhine State.

A comprehensive refugee rights policy should be introduced and developed by ASEAN as, since its establishment, ASEAN has not addressed refugee rights.

This crisis can be seen as a golden opportunity for ASEAN to begin to recognize refugee rights as well as begin to end practices such as mandatory detention. Alternative methods include: Supporting the health and well-being of migrants, strengthening the participation in immigration case resolution processes, improving voluntary and independent departure rates and avoiding wrongful detention, overcrowding and long-term detention.

For more information, please contact Mr. Daniel Awigra, Deputy Director of the Human Rights Working Group  at awigra2015@gmail.com or +62817 6921757

For download the press statement please click this link.

Prioritas Diplomasi RI Hanya Akan Berhasil Jika Demokrasi dan HAM Jadi Prinsip Utama

Siaran Pers Catatan Kritis HRWG Atas Pidato Menlu

Prioritas Diplomasi RI Hanya Akan Berhasil Jika Demokrasi dan HAM

Jadi Prinsip Utama

[Jakarta, 9 Januari 2019] – Human Rights Working Group (HRWG) mengapresiasi pidato tahunan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi hari ini, yang memaparkan capaian baik di tingkat regional dan internasional, utamanya dalam berperan serta aktif pada isu Palestina, Rohingya, perlindungan warga negara Indonesia (WNI) di luar negeri dan dibentuknya agensi tunggal “Indonesian Aids”. Di samping itu, Menlu juga menyoroti berbagai tantangan ke depan seperti “me-first diplomacy”, isu-isu keamanan tradisional utamanya terorisme, perang dagang, dan tantangan dunia baru di era digital dengan meningkatnya hoax.

Menlu juga menyampaikan empat prioritas diplomasi Indonesia ke depan; diplomasi kedaulatan negara, perlindungan warga negara, diplomasi ekonomi, dan kemanusian serta perdamaian, khususnya melalui perannya sebagai anggota Dewan Keamanan PBB.

Bagi HRWG, berbagai tantangan dan prioritas terebut, hanya akan berhasil dilalui jika Indonesia terus menegakkan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan demokrasi di dalam merespon dan menyelesaikan – dengan dukungan-dukungan kementerian dan lembaga serta partisipasi masyarakat sipil.

Diplomasi kedaulatan yang utamanya menyoal isu Papua, tidak akan berhasil jika pemerintah masih menggunakan pendekatan keamanan dan cara-cara represif di sana. Perlindungan WNI, utamanya pekerja migran Indonesia yang bekerja di sektor rentan seperti pekerja rumah tangga, anak buah kapal, di mana Indonesia seharusnya memiliki kerangka hukum nasional yang kuat dengan meratifikasi Konvensi ILO 189 tentang kerja layak bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT), dan Konvensi ILO 188 tentang hak dan kewajiban anak buah kapal perikanan, sayangnya justru tidak disebut dalam pidato Menlu.

Selain itu, dipomasi untuk kerjasama ekonomi, misalnya untuk melindungi produksi sawit, juga harus dibarengi dengan penegakkan prinsip-prinsip HAM dan keadilan ekologi dalam bisnis dan investasi. Jika tidak, laju investasi yang tanpa mengindahkan penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak asasi manusia dan keadilan lingkungan akan menjadi ancaman tersendiri.

Di tengah tren global yang menuju pada ‘me first diplomacy’ dan krisis nilai-nilai multilateralisme, Indonesia justru dapat mengambil peluang di kancah global dengan perannya sebagai anggota Dewan Keamanan PBB dan pencalonan Indonesia kembali untuk menjadi anggota Dewan HAM PBB. Peran ini harus dimaksimalkan dengan mendorong penyelesaian konflik dan perang dengan tetap memegang prinsip-prinsip hak asasi manusia dengan dukungan “Indonesian Aids”. Hal ini harus diikuti dengan kemauan politik yang kuat baik di dalam dan luar negeri untuk mendorong tercapainya tujuan diplomasi kemanusiaan dan perdamaian.

Di tingkat regional, meski mendukung keketuaan Thailand sebagai ketua ASEAN tahun 2019, tetap saja, Indonesia harus memainkan peran untuk mendorong demokrasi dan penghargaan HAM di Thailand –yang kini dikuasai oleh junta militer, dan pemajaun HAM di negara-negara ASEAN. Indonesia, melalui Menlu, bersama dengan menteri luar negeri ASEAN lain, harus lebih mendorong peran Komisi HAM Antar-pemerintah ASEAN (AICHR) untuk turut aktif dalam merespon situasi HAM yang terus digerus oleh krisis demokrasi di kawasan yang stagnan dan terbilang mundur.

Narahubung:

Daniel Awigra (+62 817-6921-757)

Deputi Direktur HRWG

Download link.

==================

HRWG’s Critical Notes on Indonesian Minister of Foreign Affairs’ Speech

Indonesia’s Diplomacy Priorities will only be Successful when Principles of Democracy and Human Rights are Upheld

[Jakarta, January 9, 2019] – Human Rights Working Group (HRWG) appreciates the Indonesian Minister of Foreign Affairs, Ms. Retno Marsudi, for delivering a speech earlier today on the Ministry’s notable achievements at both regional and international levels. These achievements include, in particular, its active roles in addressing the Palestinian and Rohingya issues, protecting Indonesian citizens overseas and instituting ‘Indonesia Aids,’ which extends humanitarian assistance in times of crisis. In addition, the Minister put a spotlight on some challenges in the foreseeable future ranging from ‘me-first diplomacy’ to terrorism, trade wars and new challenges amidst heightened intensity of fake news circulation in the digital era.

The Minister put forward four priorities of Indonesian diplomacy in the near future: state sovereignty diplomacy, protection of citizens, economic diplomacy, and humanitarian and peace diplomacy, taking account of its current role as a UN Security Council member.

HRWG is of the opinion that efforts to overcome challenges and achieve the aforementioned priorities will come to fruition only when Indonesia continues to uphold the principles of human rights and democracy, in collaboration with relevant governmental bodies and civil society.

Sovereignty diplomacy, especially on the issues of Papua, will be doomed to failure if the State insists on employing security approaches and repression. It is also of note that, on the issue of ‘protection of Indonesian citizens overseas,’ the Minister failed to put into perspective some fundamental yet nonexistent protection mechanisms for its sizeable slice of population overseas: Indonesian migrant workers who work in vulnerable sectors, such as fishing industry and domestic work. Indonesia should urgently ratify the ILO Convention 189 on Decent Work for Domestic Workers and ILO Convention 188 on Decent Work in Fishing Industry.

Diplomacy on economic cooperation to protect palm production, for instance, must be in line with the principles of human rights and environmental justice, otherwise it will pose a menace to the attainment of the goal itself.

Amidst the global trend of ‘me-first diplomacy’ and the crisis of multilateralism, Indonesia should avail itself of the opportunity to play its role as a UN Security Council member, and a candidate for a UN Human Rights Council member, by championing conflict and war resolutions while adhering to human rights principles, with the support of ‘Indonesia Aids.’ Strong political will, at both domestic and international levels, is necessary to achieve Indonesia’s humanitarian and peace diplomacy goals.

At the regional level, despite the Thai chairmanship of ASEAN, Indonesia should continue to push for democracy and the respect of human rights in Thailand, which is under military junta, and other ASEAN countries. Indonesia, through its Minister of Foreign Affairs, should work together to support the ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights (AICHR) in responding to various human rights violations that are taking place in ASEAN’s backyard.

For more information, please contact Mr. Daniel Awigra (Deputy Director, Human Rights Working Group) through email at awigra2015@gmail.com or mobile phone at +62817 6921757.

Download link.

2017: Masih Mencari Solusi Hukuman Mati

ASEAN jadi salah satu kawasan yang masih gencar mempromosikan hukuman mati. Napi tereksekusi mati Indonesia adalah yang terbanyak di kawasan ini.

tirto.id – Natal tahun ini, Renae Lawrence mendapat pengurangan masa tahanan dua bulan. Salah satu anggota Bali Nine ini akan jadi satu-satunya anggota sindikat bandar narkoba itu yang lolos dari hukuman seumur hidup dan hukuman mati. Ia bahkan bisa bebas pada Mei tahun depan, jika bayar denda Rp 1 miliar, yang setara dengan enam bulan tahanan tambahan. Artinya, kalaupun tidak bebas pada Mei, dia tetap bisa keluar dari bui paling lama November tahun depan.

Lawrence adalah satu-satunya perempuan dalam sindikat itu, sekaligus jadi yang mendapat vonis paling ringan. Dua anggota lainnya, Myuran Sukuraman dan Andrew Chen sudah dieksekusi mati 2015 silam. Sementara anggota lainnya dapat hukuman seumur hidup.

Di Indonesia, menjadi bandar narkoba memang dianggap kejahatan besar yang ancamannya bisa hukuman mati. Belum lagi, perang pada narkoba adalah salah satu kejahatan yang jadi fokus pemerintahan Presiden Joko Widodo. Dalam dua tahun pertama pemerintahannya, tercatat 14 eksekusi mati telah dilakukan. Semua merupakan hukuman dalam kasus narkoba.

Berbeda dengan masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, ia mengeksekusi mati 24 orang. Namun, tidak semua eksekusi itu berasal dari kasus narkoba.

Di ASEAN, Indonesia adalah tempat eksekusi mati paling banyak terjadi dalam lima tahun terakhir. Dalam laporan Amnesty International yang dikutip Coalition for the Abolition of Death Penalty in ASEAN (CADPA), angkanya sampai 19 kasus. Disusul Vietnam dengan 14 kasus di tempat kedua. Singapura di posisi ketiga dengan 4 kasus, dan berikutnya Malaysia dengan 3 kasus.

Dari data yang sama, Indonesia punya 135 napi yang menanti hukuman mati. Angka itu membuat Indonesia berada di posisi keempat negara di ASEAN yang punya calon tereksekusi paling banyak. Posisi pertama ada Malaysia dengan 902 kasus, Vietnam dengan 676, dan Myanmar dengan 235. Dari data terbaru milik CADPA, per 12 Oktober 2017, angka itu bahkan bertambah.

Di Indonesia, setidaknya ada 165 orang terpidana mati, 7 di antaranya perempuan, dan sebanyak 42 orang adalah warga negara asing (WNA). Kasus terbanyak adalah pidana umum pembunuhan yang sampai 90 orang. Sementara tertinggi kedua adalah narkoba dengan total 73 orang, dan teroris dengan jumlah 2 orang saja.

Tingginya angka hukuman mati di ASEAN jadi perhatian dunia. Terutama karena kebijakan yang diambil beberapa pemimpin negara kawasan ini, seperti Presiden Jokowi dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Sementara berdasarkan catatan CADPA, semua negara di kawasan ASEAN masih menganut hukum tersebut. Hanya saja, Myanmar, Laos, dan Brunei mulai mengabolisi praktik tersebut.

Berita dapat dibaca lebih lanjut disini.