Tag Archives: ASEAN

Ditunggu, Instrumen Perlindungan Buruh Migran ASEAN

Perlintasan buruh migran antar negara di Asia Tenggara tergolong tinggi. Namun, mobilitas para pekerja lintas negara itu tidak diikuti perlindungan yang memadai. Akibatnya, banyak buruh migran yang haknya tidak terlindungi.

Sejak 2007 ASEAN telah menerbitkan Deklarasi Cebu yang memandatkan negara di asia tenggara untuk menerbitkan instrumen regional yang melindungi buruh migran. Sampai saat ini pembentukan instrumen itu masih berproses, paling lambat harus selesai pada pertemuan ASEAN November 2017 di Manila, Filipina.

Program Manajer Advokasi HAM ASEAN HRWG, Daniel Awigra, mengatakan proses pembentukan draft instrumen itu sangat tertutup. Pemerintah di setiap negara ASEAN tidak memberikan naskah draft tersebut kepada masyarakat sipil. Padahal dokumen itu nanti akan diterapkan untuk publik khususnya perlindungan bagi buruh migran dan keluarganya.

Walau tidak mendapat draft, pria yang disapa Awi itu mengatakan koalisi organisasi masyarakat sipil di ASEAN menekankan agar ketentuan yang diatur dalam instrumen tersebut melindungi buruh migran dan keluarganya, baik buruh migran yang berdokumen lengkap atau tidak.

Awi menjelaskan sedikitnya ada 4 hal yang menjadi perdebatan antar negara Asia Tenggara dalam membahas instrumen perlindungan buruh migran. Pertama, negara asal buruh migran berharap instrumen itu mengikat (legally binding), tapi negara penerima seperti Malaysia dan Singapura tidak menyetujuinya. Kedua, negara penerima hanya mau memberi perlindungan terhadap buruh migran berdokumen.

Ketiga, negara penerima hanya mau melindungi buruh migran, tidak beserta keluarganya. Keempat, sebagian negara hanya mau menggunakan pendekatan pembangunan, padahal yang perlu dijalankan perspektif HAM. “Kami sebagai perwakilan masyarakat sipil di Asia Tenggara mengusulkan agar instrumen itu bersifat mengikat bagi negara Asean dalam melindungi buruh migran dan keluarganya. Perlindungan itu harus diberikan kepada seluruh buruh migran baik yang berdokumen lengkap atau tidak,” kata Awi.

Masyarakat sipil Filipina yang diwakili Centre for Migrant Advocacy Philippines, Ellene S Anna, mengatakan tahun ini genap 50 tahun berdirinya Asean. Oleh karenanya saat ini merupakan momentum penting bagi Asean untuk memiliki instrumen yang melindungi buruh migran. “Pemerintah Filipina harus mendorong diselesaikannya instrumen tersebut sejak 10 tahun lalu berhasil mengawali dengan terbitnya Deklarasi Cebu 2007 silam,” tegasnya.

Koordinator Migration Working Group Malaysia, Sumitha Saanthinni Kishna, menekankan pentingnya implementasi setelah instrumen itu diterbitkan. Perlu dibentuk rencana aksi, dengan tujuan dan batas waktu yang jelas.” Instrumen itu harus mengikat negara Asean. Selain kepada buruh migran asal Asia Tenggara perlindungan juga perlu diberikan kepada buruh migran yang berasal dari negara lain seperti Nepal, Srilangka dan India,” tukasnya.

Baca berita aslinya disini.

Prospects fade for ASEAN migrant worker deal

Many of these figures under-represent the reality, given that undocumented migration is significant. This is one of the issues that the proposed ASEAN deal would address.

The most vulnerable have sometimes had their passports or other identification documents confiscated by employers, in turn leaving them vulnerable to crackdowns such as those in Malaysia and Thailand.

“Sometimes they lose their documents because their boss, or the recruitment agency hijack the documents,” said Daniel Awigra, ASEAN advocacy program manager at the Jakarta-based Human Rights Working Group.

Host countries such as Malaysia and Thailand also feature significant emigration, with just over 1 million Malaysians and 200,000 Thais living elsewhere in the region — a fifth of the total of around 1 million Thais who work overseas.

Economic disparities

The demographics of migration within the bloc reflect its wide economic disparities. Singapore’s gross domestic product per capita was $52,961 in 2016 — the ninth-highest in the world and the highest in ASEAN, according to International Monetary Fund figures. Brunei’s per capita GDP was second on $26,424, with Malaysia next on just under $10,000.

Much lower are countries such as Cambodia on $1,230, the Philippines on $2,924, and Indonesia on $3,604. Thailand, mostly a receiver country, had 2016 GDP per capita of just under $6,000. This is low compared with Malaysia and Singapore but enough to make the country an attractive proposition for migrants from Cambodia and Myanmar, the latter with a GDP per head of $1,275, according to the World Bank.

Singapore and Thailand need migrant labor in sectors where their own nationals are reluctant to work — such as domestic service and fisheries — and people working in those sectors would benefit most from a region-wide code.

“Migrant workers and nationals are generally not treated differently under the labor and employment laws and regulations. However, migrants are often filling jobs that locals do not want and which nationals find low-paying or unattractive. Some of these, like in domestic work, mainly done by women, [and] agriculture and fishing are not afforded some or much of the protections of the labor law. Domestic workers for example are amongst the lowest paid, coupled with long hours, as they are not covered by minimum wage provisions,” said Nilim Baruah, senior migration specialist at the International Labor Organization.

Recent years have seen harrowing revelations of abuse of migrant workers in Thailand’s massive fishing industry, where many have been kept at sea as slaves for years at a time, while Singapore’s courts sometimes deal with domestic helpers’ allegations of abuse against homeowners.

But migrants are vital to host country economies. In the recent Malaysian crackdown, construction companies have complained to local media that they have been left short-staffed as foreign workers avoid showing up for work, fearing arrest.

Of the estimated 4 million migrant workers in Malaysia, around half are thought to be working illegally, with Myanmar and Indonesian migrants making up a significant proportion.

Such numbers, along with the accounts of abuse, and a lack of oversight of the networks of brokers, recruiters and traffickers profiting from migration in the region, all suggest a pressing need for an ASEAN deal on the issue rather than the current set of bilateral arrangements between various states.

While receiver countries have an economic interest in cheap migrant labor, source countries also benefit. During Myanmar’s five decades of military rule, emigration meant that millions of young people, who otherwise might have stayed to become disaffected by a lack of local job opportunities, left for neighboring Malaysia and Thailand.

Job creation

Myanmar’s economic growth since 2011 has spurred hopes that the country can facilitate job creation at home and curb emigration — a less attractive option now given the crackdowns overseas.

“The ‘pull’ factor that drew Burmese people outside Myanmar’s borders has likewise diminished. Thailand is a most uncertain place these days, while closing borders broadly does not augur well,” said Sean Turnell, an economic advisor to the Myanmar government.

The Philippines has facilitated emigration as a means not only of helping surplus labor find employment, but as a supplement to the domestic economy. Huge remittances — equal to 10.2% of Philippine GDP in 2015 according to the World Bank — have long been sent back to the country by overseas Filipino workers, or OFWs.

In 2016 remittances to the Philippines amounted to almost $27 billion, according to the country’s central bank. Most of the money came from Filipinos working outside ASEAN, with only Singapore appearing on the central bank’s listing of the top 10 source countries for remittances in 2016.

Manila is nonetheless keen to sort out a deal ahead of the mid-November ASEAN summit, which will mark the conclusion of its chairmanship.

But after the failure to agree terms at the ASEAN summit held in April, the Philippines has come around to the idea of a non-enforceable code, in the hopes of marking the upcoming summit with a deal. “I think the Philippines, as ASEAN chair presiding over ASEAN’s 50th anniversary, would like to push for the regional instrument’s adoption under their watch,” said Thuzar.

“[The] Philippines as chair wants a feel good photo op,” said Sinapan Samydorai, an advocate for migrant worker rights and director of Southeast Asian affairs at Think Center, a NGO in Singapore.

However Indonesia, by far the biggest country and economy in ASEAN, is holding out for a more robust deal that would help the 1.2 million Indonesians working mostly in Malaysia and Singapore.

“The lack of coordinated action among ASEAN governments to protect human rights in the context of migration is contributing to this problem and giving free rein to employers, recruitment agents, and authorities to abuse migrant workers,” said Eva Kusuma Sundari, an Indonesian MP, in a recent statement by ASEAN Parliamentarians for Human Rights, a non-government group.

Read the original article here.

Koalisi Masyarakat Sipil ASEAN Desak Perlindungan Buruh Migran

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Koalisi Masyarakat Sipil ASEAN mendesak pemerintah untuk meningkatkan perlindungan buruh migran dengan mengadopsi Deklarasi Cebu ke dalam peraturan yang mengikat secara hukum di negara masing-masing.

“Kami mendorong pemerintah membangun satu instrumen yang kuat dan mengikat secara hukum. Kami akan berikan masukan ke Menteri Ketenagakerjaan dan duta-duta besar negara ASEAN untuk diperhatikan dan diadopsi di ASEAN Summit pada November 2017,” papar Program Manager Advokasi ASEAN dari Human Rights Working Group (HRWG) Indonesia Daniel Awigra di Jakarta, Selasa (18/7).

Organisasi masyarakat sipil dari delapan negara ASEAN mengadakan konsultasi regional untuk membahas langkah advokasi yang akan diberikan kepada pemerintah masing-masing di Jakarta, Selasa. Pernyataan Koalisi Masyarakat Sipil Regional tentang Adopsi Instrumen ASEAN mengenai Perlindungan dan Promosi Hak-hak Buruh Migran itu ditandatangani oleh perwakilan delapan negara yakni Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam.

Daniel mengatakan saat ini banyak negara yang belum mengadopsi Deklarasi Cebu tentang buruh migran ke dalam aturan hukum negaranya. Karena itu, Koalisi Masyarakat Sipil ASEAN itu akan mendesak para pemimpin negara yang akan berkumpul pada ASEAN Summit untuk dapat memberi komitmennya demi peningkatan perlindungan bagi buruh migran.

Beberapa rekomendasi yang diberikan adalah bagi aturan perlindungan mengenai buruh migran dapat juga mencakup keluarga mereka. Selain itu, juga mendesak perlindungan bagi seluruh buruh migran terlepas dari status kepegawaiannya yang legal maupun yang ilegal.

Rekomendasi juga diberikan agar ada ketentuan khusus mengenai buruh migran perempuan dan pekerja domestik seperti pembantu rumah tangga yang mayoritas perempuan, sesuai dengan Deklarai CEDAW dan Konvensi ILO Nomor 189. “Kami menginginkan agar diskriminasi terhadap pekerja migran perempuan dihilangkan,” ujar perwakilan koalisi dari Filipina, Ellene Esana, dari Centre for Migrant Filipina.

Baca berita aslinya disini.

Menaker Dorong ASEAN Sepakati Perlindungan Pekerja Migran

Liputan6.com, Jakarta Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri meminta kepada perwakilan organisasi masyarakat sipil (Civil Society Organisation/CSO) dari negara-negara ASEAN ikut mendesak negaranya untuk mendukung upaya perlindungan pekerja migran yang bersifat mengikat (legally binding) sebagaimana yang perjuangkan Indonesia pada forum ASEAN Committee on the Protection and the Promotion of the Rights of Migrant Workers (ACMW).

“Indonesia konsisten pada posisinya, memperjuangkan instrument perlindungan pekerja migran yang bersifat legally binding, bukan sekadar morally binding,” kata Menteri Hanif pada jamuan makan malam dengan perwakilan CSO dari negara-negara ASEAN di rumah dinas Menaker, kemarin.

Hanya dengan kesepakatan yang mengikat, perlindungan kepada pekerja migran dan keluarganya bisa diberikan secara maksimal. “Saya berharap para NGO dan CSO di ASEAN dapat pula menyampaikan kepada pemerintah di negaranya untuk mendukung legally binding perlindungan dan HAM bagi pekerja migran,” tambah Menaker.

Perlindungan tak hanya kepada pekerja migran yang documented (legal) maupun yang undocumented (illegal), mengingat terdapat pekerja migran yang menjadi undocumented bukan karena kesalahannya.

Hampir seluruh perwakilan CSO yang hadir pada acara tersebut mendukung upaya legally binding bagi perlindungan pekerja migran sebagaimana yang diperjuangkan Indonesia selaman ini.

Salah satu perwakilan CSO Malaysia, Sumitha Shaanthinni Kishna pada acara tersebut menyampaikan bahwa isu legal instrument tingkat ASEAN dalam perlindungan pekerja migran menjadi perhatian internasional. “Kami mendukung adanya legal instrument tingkat regional. Kesepakatan legally binding juga bisa untuk menolong pekerja migran yang undocumented,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh perwakilan dari Filipina, Jelen Paclarin. Selain itu, ia meminta kepada Indonesia untuk terus melakukan pendekatan kepada anggota ASEAN lainnya agar memberikan dukungan.

Menteri Hanif sengaja mengundang jamuan makan malam kepada para perwakilan CSO dari negara-negara ASEAN yang sedang menghadiri acara Regional Consultation on the Civil Society Advocacy to the ASEAN Instrument on Migrant Workers yang diselenggarakan HRWG (Human Rights Working Group) di Jakarta.

Sejak 2009, Indonesia konsisten memperjuangkan legally binding perlindungan bagi pekerja migran pada forum ASEAN. Namun, hingga saat ini negara-negara ASEAN belum mencapai konsensus. Diharapkan organisasi masyarakat sipil di tiap negara ASEAN mendorong negaranya untuk mendukung konses perlindungan pekerja migran yang mengikat dan tertulis, bukan sekadar kesepakatan moral.

Baca berita aslinya disini.

ASEAN Gagal Lindungi Buruh Migran

SEPULUH organisasi nonpemerintah (NGO) dari 10 negara anggota ASEAN yang mengadvokasi isu dan permasalahan pekerja migran sepakat bahwa ASEAN gagal dan tidak efektif dalam memberikan perlindung­an hak asasi kepada jutaan buruh migran di kawasan Asia Tenggara. Manager Program Human Rights Working Group (HRWG) mengata­kan kegagalan itu disebabkan belum adanya instrumen regional perlindungan pekerja migran yang mengikat secara hukum sebagai payung perlindungan buruh migran di antara negara anggota ASEAN.

“Padahal, pembentukan instrumen perlindungan dan pemenuh­an hak-hak pekerja migran ialah amanat penting Deklarasi ASEAN yang dihasilkan di Cebu, Filipina, pada 2007,” ujar Manager Program HRWG, Daniel Awigra, di Jakarta, selasa (18/7). “Sudah 10 tahun berlalu tapi belum mencapai konsensus. Di sisi lain, ada sekitar 6 juta pekerja migran Asia Tenggara yang bermigrasi mencari penghidupan lebih baik di kawasan ini. Mereka butuh per­lindungan dan jaminan hukum,” sindir aktivis yang akrab disapa Awi itu. Malaysia menjadi negara tujuan utama dengan buruh migran dari lingkup Asia Tengggara, disusul Singapura dan Brunei. Sementara itu, Indonesia menjadi penyumbang terbesar, diikuti Filipina.

Sebanyak 10 NGO dari 10 negara anggota ASEAN berembuk di salah satu hotel di Jakarta Selatan pada Senin-Selasa (17-18 Juli) untuk me­rumuskan instrumen per­lindungan buruh migran yang akan diserahkan kepada ASEAN dan negara-negara anggota. Mereka menyeru ASEAN untuk mengadopsi instrumen per­lindungan buruh migran yang mengikat secara hukum setidaknya tahun ini bertepatan dengan pertemuan puncak November mendatang. Direktur Eksekutif Center for Migrant Advocacy di Filipina, Ellene A Sana, melihat tahun ini sebagai momentum untuk meng­adopsi instrumen perlindungan buruh migran yang mengikat secara hukum karena ASEAN di bawah kepemimpinan Filipina.

“Ya, ini momentum emas karena Deklarasi Cebu 10 tahun lalu dihasilkan ketika Filipina menjadi ketua ASEAN, dan terobosan untuk mengesahkan instrumen yang mengikat bisa dibuat karena sekarang ASEAN di bawah kepemim­pinan Filipina,” kata Ellene. Empat hambatan Awi menambahkan, ada empat hambatan dalam mencapai konsensus di antara anggota ASEAN dalam mengadopsi instrumen perlin­dungan buruh migran yang mengikat secara hukum. Pertama, terkait dengan sifat dokumen tersebut. Dalam hal ini kesepakatan sulit diraih karena negara-negara pe­ngirim buruh migran didorong untuk mengadopsi instrumen tersebut pada taraf yang mengikat secara hukum, sesuatu yang tidak diterima negara penerima.

Kedua, terkait dengan pekerja migran tanpa keterangan (undocumented migrant worker). “Jadi ada negara-negara yang hanya mau melindungi pekerja migran yang sah atau berdokumen,” kata Awi. Ketiga, negara-negara ASEAN gagal mencapai konsensus berkaitan dengan pelibatan anggota keluarga pekerja migran. Keempat, terkait dengan paradigma. “Beberapa negara men­dorong pendekatan hak asasi manusia, sementara negara-negara lain ingin berbasis pada pembangunan saja,” ujarnya. (Hym/I-1)

Baca berita aslinya disini.

Regional Consultation on the Civil Society Advocacy to the ASEAN Instrument on Migrant Workers

Welcome Remarks

Regional Consultation on the Civil Society Advocacy to the ASEAN Instrument on Migrant Workers

Jakarta, 17th July 2017

by Muhammad Hafiz, the Executive Director of HRWG


It is a great honour for me to welcome you to the Regional Consultation on the Civil Society Advocacy to the ASEAN Instrument on Migrant Workers that will be started by today until 19th July 2017. I would like also to thank Bapak George J. Lantu, Director of ASEAN Functional Cooperation, Ministry of Foreign Affairs of Indonesia to give welcome remarks at this meeting and Ibu Roostiawaty, The Director of Labor Market Development, Ministry of Manpower of Indonesia who will share the negotiation process of the draft Instrument of Migrant Workers in ASEAN.

Taking this opportunity, I would like to congratulate the organiser from Human Rights Working Group and Solidaritas Perempuan who have successfully organised this meeting. HRWG and Solidaritas Perempuan have been actively engaged with Indonesian Representatives of ASEAN Committee on Migrant Workers from Ministry of Manpower and Ministry of Foreign Affairs to discuss on the forthcoming adopted ASEAN instrument of migrant workers in next ASEAN Summit on November 2017 in the Philippines.

The number migrant workers are kept growing in ASEAN since ASEAN has already launched the ASEAN Economic Community in 2015 which allow ASEAN citizen to work in their neighbouring ASEAN countries. ASEAN Economic Community has become the major milestone to the economic development in regional agenda. However, the challenges are quite dangerous especially to the vulnerable groups who need maximum protection from ASEAN government undeniably migrant workers.

Thus it is very important for civil society in the region to engage in the adoption process of the instrument on migrant workers in ASEAN that has been mandated on the ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers or Cebu Declaration ten years ago.

Currently, HRWG evaluated the Recommendations of the ASEAN Forum on Migrant Labour (AFML) that one of recommendation is to continue the drafting of the regional instrument for the migrant worker. The publication and assessment showed us that the implementation of Cebu Declaration and AFML’s recommendation have not fully implemented and ASEAN should have a stronger legal framework which can ensure human rights protection for all migrant workers.

In line with that, the ASEAN Labour Ministers Retreat on February 2017 in Davao City, Philippines, has made significant milestone to the negotiation process of the draft ASEAN instrument on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers.The retreat finally has unlocked the unfinished debate on some contentious issues namely legal status of the document, protection for undocumented migrant workers and their family members, and the nature of the instrument.

Now, ASEAN has the draft Instrument of the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers as agreed by the ASEAN Labour Ministers and the ASEAN Senior Labour Officials. However, the finalisation of the draft is getting stagnant due to some pending articles.

Having that said, it is urgent for us as ASEAN civil societies to be included in giving our recommendation to those pending and contentious issues. Hopefully, your valuable inputs, recommendation, and argumentation in this meeting will be further discussed and compelled to be ASEAN CSOs’ Submission for ASEAN leaders.

Let me end this speech by saying that this regional Consultation is one of the milestones to ASEAN CSOs to be heard and included in the process of ASEAN’s effort to protect the MW in the region, including also in the drafting of the Instrument for migrant workers and their family members.

In the end, we should ensure ASEAN as “caring and sharing” community that prioritise and protecting the rights of migrant workers as the part of ASEAN people centred, people, oriented.

Thank you.



Diplomasi 2017 Indonesia Tidak Meletakkan HAM Jadi Prioritas

[Jakarta, 11 Januari 2017] – Human Rights Working Group (HRWG) menilai proyeksi politik luar negeri Indonesia tahun ini seperti disampaikan Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di Jakarta (10/1) tidak meletakkan hak asasi manusia (HAM) sebagai prioritas diplomasi. HAM disebut pada poin terakhir (poin ke-14) fokus diplomasi tahun 2017.

Komitmen politik luar negeri Indonesia ke depan, masih mengacu pada paradigma developmentalism yaitu dengan menjaga perdamaian, keamanan dan stabilitas kawasan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan luar negeri selaras dengan kebijakan nasional dimana di bawah pemerintahan Jokowi-JK, Indonesia lebih berfokus pada percepatan pembangunan.

“Hak asasi manusia harusnya menjadi landasan utama bagi setiap kebijakan, termasuk kebijakan luar negeri. Perlu dilihat bahwa problem mendasar dunia dewasa ini adalah meningkatnya konservatisme akibat rezim yang dipilih secara demokratis tidak menjadikan HAM sebagai dasar kebijakannya,” kata Muhammad Hafiz, Direktur Eksekutif HRWG di Jakarta.

Harus disadari bahwa Indonesia bersama dengan India, Brazil dan Afrika Selatan adalah negara demokrasi baru pada tingkat global. Kelompok ini mempunyai “soft power” dalam bentuk demokrasi dan penghargaan pada HAM yang telah mengubah kancah kekuatan politik dan diplomasi international di bidang demokrasi dan HAM. Semakin kuat sebuah negara maka semakin besar tanggung jawabnya; baik terhadap rakyat maupun terhadap perkembangan demokrasi dan HAM di tingkat regional dan internasional.

“Jika HAM tidak dijadikan fokus pada kebijakan pemerintah Indonesia, maka Indonesia akan selalu gagap menyikapi persoalan-persoalan akibat praktik intoleran di dunia yang trennya menguat. Sebut saja problem politisasi agama. Tanpa menggunakan argumentasi HAM, demokrasi kita akan terjebak pada tirani mayoritas,” lanjutnya.

Meski demikian, kinerja diplomasi pemerintah Indonesia patut diapresiasi, khususnya pada isu Palestina dan Rohingya. Khusus untuk isu Palestina, diharapkan Indonesia tidak sekadar aktif di dalam diplomasi mendukung kemerdekaan, melainkan juga aktif menggalang dukungan untuk mengusut pelaku pelanggaran HAM berat di Palestina, seperti kejahatan atas kemanusiaan dan kejahatan perang.

“Kunjungan Menlu ke Myanmar baru-baru ini menunjukkan keprihatinan dan kepedulian Indonesia atas krisis kemanusian di kawasan. Hal ini juga bisa dilihat sebagai bentuk kepercayaan pemerintah Myanmar. Selain itu, upaya semacan ini adalah preseden yang baik untuk ASEAN keluar dari paradigma lama soal non-intervensi,” kata Daniel Awigra, Program Menejer ASEAN HRWG.

Peran ini harus terus didorong dan ditingkatkan, khususnya lebih mendasarkan pada semangat kerjasama politik (membangun kepercayaan) dan menggunakan argumentasi HAM.

“Hal yang luput dijelaskan dari pidato Menlu adalah perlunya mendorong penguatan mandat Komisi HAM Antarpemerintah ASEAN (AICHR). Di samping itu, AICHR Indonesia, dalam kapasitasnya sebagai perwakilan RI seharusnya lebih pro-aktif menyikapi berbagai persoalan HAM di kawasan. Sebut saja isu hukuman mati, Rohingya, extra judicial killings, buruh migran, intimidasi, pembunuhan, penghilangan paksa para aktivis kemanusiaan dan aktivis lingkungan, dan berbagai persoalan kemanusiaan lainnya masih menjadi bayang-bayang narasi pembentukan Komunitas ASEAN,” lanjutnya.

Sikap Abstain RI untuk Resolusi Moratorium Hukuman Mati PBB Diapresiasi

Metrotvnews.com, Jakarta: Lembaga pemerhati hak asasi manusia (HAM), Human Rights Working Group (HRWG) memberikan apresiasi atas posisi Indonesia, terkait Resolusi PBB terkait Moratorium Penggunaan Hukuman Mati.

Indonesia mengambil posisi abstain untuk Resulosi PBB (A/RES/71/187), dalam Sidang Umum PBB di New York, Senin 27 Desember.

Indonesia menjaga posisi sebagai negara abstentions setelah empat tahun yang lalu mengubah dari posisi menolak resolusi. Sementara, 117 negara setuju isi resolusi dan 40 negara lainnya menolak resolusi.

Apresiasi terhadap sikap pemerintah Indonesia di tingkat internasional ini mengingat dinamika politik nasional yang masih gencar menerapkan hukuman mati. Tercatat, 18 orang dieksekusi dalam tiga gelombang pada tahun 2015 dan 2016 untuk kasus kejahatan narkotika.

HRWG bersama dengan Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Penghapusan Hukuman Mati (Koalisi Hati) telah mengirimkan surat pada 17 November 2016 kepada Pemerintah Indonesia untuk meneruskan sikap tersebut pada Resolusi tahun 2016.

“Bukan hanya sebagai suatu komitmen Pemerintah Indonesia sebagai Negara yang demokratis dan menghormati hak asasi manusia, sikap tersebut kami pandang sebagai jalan tengah bagi situasi hukuman mati di Indonesia saat ini, seperti proses pembahasan KUHP di DPR yang mengarahkan pada hukuman mati sebagai hukuman alternatif,” kata Direktur Eksekutif HRWG Muhammad Hafiz di Jakarta, 28 Desember dalam keterangan tertulis.

“Pemerintah Indonesia harus melanjutkan peranan signifikannya dalam membangun kesepahaman di antara negara-negara yang mendukung maupun menolak Resolusi tersebut, dengan tetap menegaskan prinsip rule of law dan penegakan hukum yang fair (adil), serta memperkuat adanya safeguard (pengamanan) dalam proses peradilan, penegakan hukum dan pelaksanaan hukuman mati,” lanjut pihak HRWG.

“Lebih dari itu, dengan proses reformasi dan perbaikan di level nasional saat ini, HRWG sangat mendukung bila Pemerintah Indonesia dapat mendukung Resolusi tersebut dengan sikap In Favour dan menegaskan bahwa Indonesia akan terus berkomitmen untuk memajukan dan melindungi hak asasi manusia,” imbuh Hafiz.

Direktur Jenderal Multilateral Kementerian Luar Negeri RI Hasan Kleib menyatakan, Posisi RI atas resolusi mengenai moratorium hukuman mati memang dilandasi oleh: hukuman mati merupakan hukum positif Indonesia dan setiap negara berhak menentukan hukum nasionalnya masing-masing.

“Resolusi itu berisi himbauan bagi diterapkannya moratorium dan bukan abolishment hukuman mati. Hukuman mati diterapkan pada most-serious crimes (kejahatan serius) termasuk drugs (narkoba) yang dikategorikan oleh Indonesia sebagai salah satu most-serious crimes. Hukuman mati dilaksanakan melalui due process of law (melalui proses hukum) dan setelah seluruh langkah hukum dilaksanakan,” ucap Hasan Kleib, saat dihubungi Metrotvnews.com, Kamis (29/12/2016).

“Dan tentunya cerminan dari terdapatnya perdebatan publik di dalam negeri mengenai penerapan hukan mati. Posisi atas resolusi ini telah diambil sejak beberapa tahun yang lalu.

Tentunya apresiasi atas pengakuan dan penghargaan atas posisi Indonesia tersebut terutama oleh rekan-rekan pemangku kepentingan di bidang HAM,” pungkas Hasan.


Resolusi PBB ini mengalami kemunduran di ASEAN

Di level ASEAN, resolusi ini sedikit mengalami kemunduran pasca Filipina mengalami mengubah posisinya dari in favour menjadi abstain. Hanya Kamboja yang masih mendukung resolusi dan seperti sudah diprediksi sebelumnya, Malaysia dan Singapura adalah negara yang menolak resolusi.

“Negara-negara ASEAN sedang berada di tengah persimpangan jalan dalam menyelesaikan berbagai persoalan kejahatan, termasuk peredaran gelap narkotika. Dengan dalih perang terhadap narkotika, mereka justru mengabaikan prinsip-prinsip hak asasi manusia,” kata Daniel Awiga, Program Manager ASEAN HRWG.

“Sesungguhnya istilah perang bukanlah pengertian yang tepat untuk rangkaian tindakan melawan narkotika. Dalam peperangan sekalipun, segala upaya perlu dilakukan untuk melindungi korban sampingan,” sebut Awigra.

Awigra melanjutkan, hukuman mati dan extra-judicial killings (pembunuhan di luar pengadilan) adalah tindakan yang melawan hak asasi manusia dan telah terbukti tidak meniadakan tindakan ataupun menurunkan angka  kejahatan narkotika. Dewasa ini terdapat fakta yang menunjukkan adanya tren yang mengkhawatirkan di wilayah Asia Tenggara dalam hal negara-negara menyelesaikan kejahatannya.

Terlebih, kawasan ini adalah kawasan yang rentan khususnya bagi kelompok buruh migran yang rentan dieksploitasi menjadi korban sampingan sindikat kejahatan narkotika.

Arti penting resolusi –meskipun tidak mengikat secara hukum– bagi negara retensionis (negara yang masih mempertahankan hukuman mati, seperti Indonesia) adalah langkah penting menuju penghapusan hukuman mati. Hasil dari resolusi ini mencerminkan tren global menuju penghapusan hukuman mati.

Di dalamnya, Majelis Umum menyebutkan karakter ireversibel (tidak tergantikan) dari hukuman mati dan menyatakan pendiriannya bahwa moratorium penggunaan hukuman mati adalah kontribusi untuk menghormati dan peningkatan martabat dan hak asasi manusia.

Resolusi itu menyerukan kepada semua negara yang masih mempertahankan hukuman mati untuk menghormati standar internasional yang memberikan perlindungan yang menjamin perlindungan hak-hak mereka yang menghadapi hukuman mati, khususnya standar minimum.


Lihat berita aslinya disini.

Local and International groups express solidarity for the families of executed prisoners in Singapore

We, the undersigned organisations, condemn the shameful execution of a Nigerian national, Chijioke Stephen Obioha, and a Malaysian national, Devendran a/l Supramaniam in Singapore on 18 November 2016, which runs counter to global trends towards abolition of capital punishment. Around the same time, at the 50th and 51st meeting of the UN General Assembly's Third Committee’s 71 st session proceedings, the Singapore representative introduced amendments, undermining the spirit of the draft resolution calling for a moratorium on the death penalty, supported by states such as Syria, Egypt and Bangladesh.

We remain appalled that Singapore continues to execute people in contravention of international law and standards. The two men were sentenced to mandatory death penalty, after being convicted of drug trafficking, which does not meet the threshold of the “most serious crimes”.

In July 2011, during its first Universal Periodic Review (UPR), Singapore accepted a recommendation that called on the government to make available statistics and other factual information on the use of the death penalty (A/HRC/18/11, para. 95.15). The lack of transparency in relation to the scheduled executions, therefore, remains deeply concerning and prevents informed and meaningful debates in the country on the retention of this punishment.

We would like to express our regret and share in the disappointment of the families of the executed men. We oppose the use of capital punishment in all circumstances, as a violation of human rights which can never be justified under the flawed assumption that it has a unique deterrent effect.




Function 8

Humanitarian Organization for Migration Economics (HOME)

Project X

Singapore Anti-Death Penalty Campaign (SADPC)

Think Centre

We Believe in Second Chances



Suara Rakyat Malaysia (SUARAM)

Malaysians Against Death Penalty & Torture (MADPET)



Human Rights Working Group (HRWG)


International Groups and Networks

Amnesty International (AI)

Asian Forum for Human Rights and Development (FORUM-ASIA)

Anti-Death Penalty Asia Network (ADPAN)

Coalition for the Abolition of the Death Penalty in ASEAN (CADPA)

Ensemble contre la peine de mort (ECPM)

Franciscans International (FI)

Human Rights Watch (HRW)

International Commission of Jurists (ICJ)

International Federation for Human Rights (FIDH)

World Coalition Against the Death Penalty (WCADP)

For further information please contact Think Centre.

Email: thinkcentre@hotmail.com Tel: +65 94791906