Tag Archives: impunitas

Dewan Kerukunan Ditunggangi Kepentingan Impunitas

Rencana pembentukan Dewan Kerukunan oleh Pemerintah dilihat oleh HRWG sebagai upaya untuk memutus mata rantai penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Tidak jelasnya konsep kerukunan justru mengaburkan reformasi hukum yang menjadi perioritas Presiden Jokowi.

HRWG menilai bahwa Dewan Kerukunan justru berbahaya untuk pembangunan hukum di Indonesia, karena ia menggabungkan berbagai permasalahan tanpa membedakan lebih jelas akar dan pokok permasalahan dari suatu peristiwa. Kerukunan yang dimaksud pemerintah seakan ingin mengenyampingkan penegakan hukum terhadap pelanggaran yang terjadi, padahal dalam sistem Negara yang demokratis penegakan hukum adalah suatu hal yang niscaya. Dari apa yang disampaikan, tidak jelas apakah Dewan ini bertujuan untuk membangun perdamaian, toleransi, kebhinnekaan, atau untuk mengatasi kasus-kasus pelanggaran HAM. Hal ini sangat berbahaya karena berpotensi untuk mencampuradukkan masalah dan tidak jelas arah penyelesaiannya seperti apa.

Di samping itu, ranah kewenangan Dewan juga menjadi rancu ketika digabungkan dengan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu, karena jelas kasus-kasus pelanggaran ini merupakan kejahatan yang bertentangan dengan hukum. Di satu sisi Pemerintah mendorong reformasi dan penegakan hukum, tapi di sisi yang lain mendorong terkuburnya fakta-fakta kejahatan yang terjadi di masa lalu.

Kekaburan lain dari Dewan ini adalah pengenyampingan hak asasi manusia dalam proses penyelesaian suatu masalah. Padahal, diketahui bahwa hak asasi sendiri sudah masuk dalam Konstitusi, sangat jelas dan tegas. Bila kemudian Dewan mengenyampingkan prinsip ini, maka pembentukan Dewan sama saja untuk membelakangi nilai UUD 1945 yang menjadi dasar Negara ini. Lebih dari itu, prinsip HAM memastikan adanya keadilan bagi korban dan kelompok rentan, karena dalam banyak proses penyelesaian konflik, kelompok rentan, minoritas dan lemah justru dirugikan.

HRWG menilai bahwa penyelesaian konflik dengan cara musyarawah harus pula dibarengi dengan penegakan hukum sebagai landasan utama Negara ini. UUD 1945 sangat tegas menyebutkan, Indonesia dibangun berdasarkan hukum, bukan kekuasaan. Bila tidak, Dewan ini justru akan melanggar prinsip Konstitusi itu sendiri. Jangan sampai upaya yang ditempuh untuk membangun bangsa Indonesia justru menciderai prinsip hidup bersama di dalam Konstitusi.

Atas dasar ini, HRWG menyatakan sikap terkait dengan rencana pembentukan Dewan Kerukunan Nasional ini, yaitu:

  1. Dewan Kerukunan Nasional tidak boleh dijadikan ajang untuk mengubur dan mengenyampingkan penegakan hukum yang fair, transparan dan adil bagi korban, karena Indonesia adalah Negara hukum bukan atas kekuasaan. Nilai luhur membangun kebhinnekaan justru dibajak dengan impunitas pelaku kejahatan HAM dan ketidakadilan.
  2. Dewan Kerukunan Nasional harus dibatasi untuk permasalahan yang memang krusial dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini, di antaranya adalah meningkatnya intoleransi, diskriminasi dan kekerasan atas dasar agama. Untuk itu pula, Dewan Kerukunan harus terbatas pada apa yang menjadi kewenangannya, tidak mencampuradukkan antara urusan penegakan hukum, pelanggaran HAM dan pembangunan kebhinnekaan.
  3. Dewan Kerukunan Nasional harus mengadopsi prinsip HAM yang ada di dalam Konstitusi (Pasal 28 UUD), UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM, serta instrumen HAM internasional lainnya yang sudah diratifikasi oleh Indonesia. Prinsip ini memastikan adanya perlindungan hak bagi korban dalam setiap peristiwa, sehingga penyelesaian yang dilakukan oleh Dewan ini tetap mengutamakan kepentingan korban.